I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Struktur
berkaitan dengan morfologi dan anatomi. Nama morfologi dipakai diberbagia macam
cabang ilmu. Secara harfiah, morfologi berarti pengethaun tentang bentuk (morpos). Jadi, morfologi adalah ilmu
yang mempelajari tentang bentuk organisme pada hewan maupun tumbuhan, serta
mencakup bagian-bagiannya.
Morfologi tumbuhan berguna untuk
mengidentifikasi tumbuhan secara visual, dengan begitu keragaman tumbuhan yang
sangat besar dapat dikenali dan diklasifikasikan serta diberi nama yang tepat
untuk setiap kelompok yang terbentuk, ilmu yang mempelajari klasifikasi serta
pemberian nama tumbuhan adalah taksonomi tumbuhan.
Tumbuhan
yang ada dimuka bumi ini banyak sekali jenisnya. Setiap jenis tumbuhan itu
memiliki struktur yang berbeda-beda. Begitu juga dengan organ tumbuhan, seperti
akar, batang, daun dan bunga yang memiliki struktur yang berbeda-beda.
Bunga adalah pucuk yang
termodifikasi, disebut demikian karena menunjukan beberapa perubahan dalam
pengaturan apeks pucuk. Bunga dianggap ranting yang bersumbu pendek dengan
daun-daun yang merapat dan memiliki bentuk khas sesuai fungsinya. Bunga
merupakan bagian organ yang berbentuk sangat bervariasi. Bunga dikatakan
sempurna jika dalam satu bunga terdapat putik dan benang sari (kedua sel gamet.
Bunga juga dikatakan lengkap jika terdapat bagian lainnya seperti kepala putik,
tangkai putik, bakal buah, kepala sari, tangkai sari, mahkota, kelopak, dasar
bunga dan tangkai bunga.
1.2. Tujuan
1. Agar
mahasiswa mampu mengetahui bagian-bagian bunga.
2. Agar
mahasiswa mampu mengetahui dan menghitung rumus bunga.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Morfologi Bunga
Alat
perkembangbiakan pada tumbuhan dibedakan dalam dua golongan, yaitu yang
bersifat vegetatif dan generatif. Alat perkembangan generatif tersebut bentuk
dan susunannya berbeda-beda menurut jenisnya tumbuhan, tetapi bagi tumbuhan
yang berbiji, alat tersebut lazimnya merupakan bagian tumbuhan yang kita kenal
sebagai bunga.
Bunga (flos) adalah alat reproduksi seksual
pada tumbuhan berbunga divisi Magnoliophyta atau Angiospermae. Pada bunga
terdapat organ reproduksi, yaitu benang sari dan putik.
Bunga adalah pucuk yang
termodifikasi, disebut demikian karena menunjukan beberapa perubahan dalam
pengaturan apeks pucuk. Bunga dianggap ranting yang bersumbu pendek dengan
daun-daun yang merapat dan memiliki bentuk khas sesuai fungsinya. Bunga
merupakan bagian organ yang berbentuk sangat bervariasi.
Bunga
dikatakan sempurna jika dalam satu bunga terdapat putik dan benang sari (kedua
sel gamet. Bunga juga dikatakan lengkap jika terdapat bagian lainnya seperti
kepala putik, tangkai putik, bakal buah, kepala sari, tangkai sari, mahkota,
kelopak, dasar bunga dan tangkai bunga.
Bagian-bagian
pada suatu bunga lazimnya dibedakan atas:
A. Bagian-bagian
yang bersifat batang atau cabang yaitu:
·
Ibu tangkai bunga (pedunculus)
·
Tangkai bunga (pedicellus)
·
Dasar bunga (receptakulum)
B. Bagian-bagian
yang bersifat seperti daun, yaitu:
·
Daun-daun pelindung (bractea)
·
Daun tangkai (bracteola)
·
Seludang bunga (spatha)
·
Daun-daun pembalut (bractea
involucralis)
·
Kelopak tambahan (epicalyx)
|
·
Daun-daun kelopak (sepal)
·
Daun-daun mahkota atau daun tajuk
(petal)
·
Daun-daun tenda bunga (tepal)
·
Benang-benang sari (stamen)
·
Daun-daun buah (carpella)
|
Bunga
pada umumnya mempunyai bagian-bagian berikut:
a.
Tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang,
padanya seringkali terdapat daun-daun peralihan, yaitu bagian-bagian yang
menyerupai daun, berwarna hijau, yang seakan-akan merupakan peralihan dari daun
biasa ke bunga.
b.
Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan
ruas-ruas yang amat pendek. Sehingga daun-daun yang telah mengalami
metamorfosis menjadi bagian-bagian bunga yang duduk amat rapat satu sama lain,
bahkan biasanya lalu tampak duduk dalam satu lingkaran.
c.
Hiasan bunga (perianthium), yaitu bagian bunga yang merupakan penjelmaan daun
yang masih tampak berbentuk lembaran dengan tulang-tulang atau urat-urat yang
masih jelas. Biasanya hiasan bunga dapat dibedakan dalam dua bagian yang
masing-masing duduk dalam satu lingkaran. Jadi bagian bagian hiasan itu umumnya
tersusun dalam dua lingkaran:
·
Kelopak (kalyx), yaitu bagian hiasan bunga yang merupakan lingkaran luar,
biasanya berwarna hijau, dan sewaktu bunga masih kuncup merupakan selubungnya,
yang melingdungi kuncup tadi terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Kelopak
terdiri atas beberapa daun kelopak (sepala). Daun-daun kelopak pada bunga dapat
berlekatan satu sama lain, dapat pula terpisah-pisah.
·
Tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla), yaitu bagian hiasan bunga
yang terdapat pada lingkaran dalam, biasanya tidak berwarna hijau lagi.
Warna bagian inilah yang lazimnya merupakan warna bunga. Mahkota bunga terdiri
atas sejumlah daun mahkota (petala), yang seperti halnya dengan daun-daun
kelopak dapat berlekatan atau tidak.
d.
Alat-alat kelamin jantan (androcium): bagian ini sesungguhnya
juga merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari. Pada bunga
benag-benang sarinya dapat pula bebas atau berdekatan. Ada yang tersusun dalam
satu lingkaran ada pula yang dalam dua lingkaran. Bahwa bagian ini merupakan
penjelmaan daun. Masih dapat terlihat misalnya pada bunga tasbih (Canna hybrid Hort). Yang benag sari nya
yang mandul berbentuk lembaran-lembaran menyerupai daun-daun mahkota.
e.
Alat-alat kelamin betina (gynaecium), yang pada bunga merupakan
bagian yang biasanya disebut putik, juga putik terdiri atas metamorfosis daun
yang disebut daun buah. Pada bunga dapat ditemukan satu atau beberapa putik,
dan setiap putik dapat terdiri atas beberapa daun buah, tetapi dapat pula hanya
terdiri atas satu daun buah. Kalau ada beberapa daun buah, maka biasanya
semuanya akan tersusun sebagai lingkaran bagian-bagian bunga terakhir.
Melihat
bagian-bagian yang terdapat pada bunga (tangkai dan dasar bunganya tidak
diperhitungkan), maka bunga dapat dibedakan dalam bunga lengkap dan bunga tidak
lengkap.
Bunga
lengkap atau bunga atau bunga sempurna (flos completusl), yang dapat
terdiri atas: 1 lingkaran daun-daun kelopak, 1 lingkaran daun-daun mahkota, 1
atau 2 lingkaran benang-benang sari dan satu lingkaran daun-daun buah. Bunga
yang bagian-bagiannya tersusun dalam 4 lingkaran dikatakan: bersifat
tetrasiklik, dan jika bagian-bagiannya tersusun dalam 5 lingkaran: pentasiklik.
Bunga
tidak lengkap atau bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (flos
incompompletes), jika salah satu bagian hiasan bunganya atau salah satu
alat kelaminnya tidak ada. Jika bunga tidak mempunyai hiasan bunga itu deisebut
telanjang (nudus), jika hanya mempunyai salah satu dari kedua macam alat
kelaminnya, dinamakan berkelamin tunggal (unisexual).
Bunga
biasanya memiliki dua macam alat kelamin. Alat-alat kelamin itulah yang
sesungguhnya merupakan bagian bunga terpenting. Adanya alat-alat tersebut dapat
dihasilkan alat-alat perkembangbiakan atau calon tumbuhan baru.
Alat-alat
kelamin yang terdapat pada masing-masing bunga berbeda-beda, diantaranya
adalah:
a.
Bunga banci atau berkelamin dua (hermaphroditus), yaitu bunga, yang
padanya terdapat benang sari (alat kelamin jantan) maupun putik (alat kelamin
betina). Bunga ini seringkali dinamakan pula bunga sempurna atau bunga lengkap,
karena biasanya pun jelas mempunyai hiasan bunga yang terdiri atas kelopak dan mahkota,
misalnya bunga terung (solanum melongena
L).
b.
Bunga berkelamin tunggal (unisexualis), jika pada bunga hanya
terdapat salah satu dari kedua macam alat kelaminnya. Berdasarkan alat kelamin
yang ada padanya dapat dibedakan lagi dalam:
·
Bunga jantan (flos masculus), jika pada
bunga hanya terdapat benang sari tanpa putik, misalnya bunga jagung yang
terdapat di bagian atas tumbuhan.
·
Bunga betina (flos femineus), yaitu
bunga yang tidak mempunyai benag sari, melainkan hanya putik saja, misalnya
bunga jagung yang tersusun dalam tongkolnya.
c.
Bunga mandul atau tidak berkelamin, jika
pada bunga tidak terdapat baik benang sari maupun putik, misalnya bunga pinggir
(bunga pita) pada bunga matahari (helianthus
annuus ).
Pada
tumbuhan terdapat kelamin bunga. Berkaitan dengan kelamin bunga, dalam tumbuhan
dapat dibedakan beberapa jenis beberapa tipe kelamin bunga, diantaanya adalah:
a.
Berumah satu (monoecus)
Tumbuhan
berumah satu ini adalah tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina
pada satu individu (satu batang tumbuhan), misalnya jagung (zea mays L), mentimun (cucumis sativum L), jarak (Ricinus communis L.).
b.
Berumah dua (dioecus)
Dikatakan
tumbuhan berumah dua jika bunga jantan dan bunga betina terpisah tempatnya,
artinya ada individu yang hanya mendukunng bunga jantan saja, dan ada individu
yang hanya mendukung bunga betina saja, misalnya salak (Zalacca edulis Reinw).
c.
Poligam (polygamus)
Tumbuhan
dengan poligam ini dicirikan dengan pada
suatu tumbuhan terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga banci
bersama-sama, misalnya pada papaya (carica
papaya L). biasanya poligami dimaksud untuk menunjukkan sifat tumbuhan
bertalian dengan sifat bunga tadi yang memperlihatkan suatu kombinasi bukan
beruamh satu dan juga berumah dua.
Dalam
bunga, ada juga yang disebut dengan rumus bunga. Rumus bunga dapat diartikan
ebagai susuanan yang terdapat pada bunga yang dapat dinyatakan dalam beberapa
lambang ataupun angka. Dengan adanya keterangan lambang dan angka tersebut
dapat menunjukan mengenai sifat bunga dan bagian-bagian bunga.
Rumus
bunga dinyatakan dalam:
1. Kelopak
(calyx) dinyatakan dengan huruf K
2. Mahkota
atau tajuk (corolla) dinyatakan dengan huruf C
3. Benang
sari (androecium) dinyatakan dengan huruf A, dan
4. Putik
(gynaecium) dinyatakan dengan huruf G.
Jika
antara kelopak bunga dan mahkota bunga tidak dapat dibedakan, untuk menyatakan
bagian tersebut digunakan huruf P untuk tenda bunga (perigonium). Penulisan
rumus bunga, dibelakang huruf-huruf tersebut ditaruhkan angka-angka yang dapat
menyatakan jumlah bagian-bagian bunga tersebut. Antara huruf dan angka
diberikan tanda koma (,).
Di
depan rumus bagian bunga, hendaknya di tambahkan simetri yaitu (*) untuk untuk
bunga bersimetri banyak, dan tanda (↑) untuk bunga bersimetri satu.
Selain
lambang yang menunjukkan jenis kelamin bunga.Untuk bunga banci dipakai lambang
(☿), untuk bunga jantan
dipakai lambang (♂), dan bunga betina dipakai lambang (♀). Untuk menyatakan
keadaan antara daun-daun kelopak, tajuk, dan benang sari (berlekatan atau
terpisah), digunakan tanda kurung untuk mengapit angka. Sedangkan bakal buah,
dinyatakan adanya garis (diatas atau di bawah) angka yang menunjukkan jumlah
putik sesuai kedudukannya.
2.2. Morfologi Bunga Sepatu
Klasifikasi
bunga sepatu
·
Kingdom : Plantae
·
Divisi : Spermatophyta
·
Kelas : Dicotyledoneae
·
Ordo : Malvales
|
![]() |
·
Famili :
Malvaceae
·
Genus :
Hibiscus
·
Spesies :
Hibiscus
rosa-sinensis
Bunga
sepatu atau kembang sepatu merupakan salah satu jenis bunga yang banyak
memiliki banyak warna yang cantik. Hibiscus
rosa-sinensis (kembang sepatu) dapat tumbuh pada wilayah tropis dan
subtropis, dengan ketinggian mencapai 1.700 meter di atas pernukaan laut.
Tipe
tanah yang dapat ditumbuhi oleh kembang sepatu yaitu tanah liat dan
berbatu-batu, banyak mengandung unsur hara dengan kelembaban berkisar antara
31-33%. Curah hujan yang dibutuhkan berkisar antara 670-4.200 mm per tahun,
suhu berkisar antara 26-30°, pH tanah berkisar antara 5,5. Daerah penyebarannya
yaitu India dan Tiongkok.
Biji
dari bunga sepatu terdapat di dalam buah berbentuk kapsul berbilik lima. Bunga
berbentuk terompet dengan diameter bunga sekitar 5 cm. hingga 20 cm. Putik
(pistilum) menjulur ke luar dari dasar bunga. Bunga bisa mekar menghadap ke
atas, ke bawah, atau menghadap ke samping. Pada umumnya, tanaman bersifat steril
dan tidak menghasilkan buah.
Bunga terdiri dari 5
helai daun kelopak yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga
terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar
atau lebih jika merupakan hibrida.
Tangkai putik
berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval yang
bertaburan serbuk sari.
|
![]() |
2.3. Morfologi Bunga Kertas
Klasifikasi
bunga kertas
·
Kingdom : Plantae
·
Divisio : Magnoliophyta
·
Classis : Magnoliopsida
·
Ordo : Caryophyllales
|
![]() |
·
Familia : Phytolaccaceae
·
Genus : Bougenvilia
·
Species : Bougenvilia spectabilis Willd
Bougainvillea
spectabilis yang lebih dikenal dengan sebutan
kembang kertas adalah salah satu tumbuhan yang memiliki sifat batang berkayu (lignosus),
yaitu batang yang biasa keras dan kuat, karena sebagian besar terdiri atas kayu
yang mengandung zat lignin. Kembang kertas memiliki bentuk batang yang bulat
(teres) dan sifat permukaan batang yang berduri (spinosus).
Arah
tumbuh batang kembang kertas adalah tegak lurus (erectus), yaitu batang tumbuh
arahnya ke atas. Percabangan batang kembang kertas yaitu monopodial, yaitu jika
batang pokok selalu tampak jelas, karena lebih besar dan lebih panjang (lebih
cepat pertumbuhannya) dari pada cabang-cabangnya.
Tanaman
bougenville termasuk tanaman perdu tegak, tinggi tanaman kira-kira 2-4
meter. Sistem perakarannya adalah tunggang. Dengan akar-akar cabang yang
melebar ke semua arah dengan kedalaman 40 cm-80 cm. Akar yang terletak
dekat permukaan tanah kadang tumbuh terus atau akar bakal tanaman bara.
Bunga
bogenville termasuk bunga majemuk, payung 3-15 bunga. Bunga beranekaragam ada
kuning, merah, merah jambu, ungu, putih dan sebagainya. Kelopak bunga berbentuk
tabung 2-4 mm. taju bunga 5-8, berbentuk paku, berambut halus.
Pasangan
daun yang sama dihubungkan dengan tonjolan yang melintang. Daun menyirip
berdaun satu, helaian daun lebar bulat sampai memanjang, bertepi rata,
bertulang menyirip atau bertulang tiga sampai lima. Bougenville memiliki buah
buni yang masak hitam megnkilat, panjang 1 cm, bebiji dua atau karena kegagalan
berbiji satu dan tidak memiliki lekukan.
Kembang
kertas toleran terhadap rentang curah hujan tahunan yang luas dari 400-3000 mm
per tahun dengan kelembapan 70-85 %. Pertumbuhan terbaik kembang kertas bila
rata-rata temperatur tahunan 19-27°C. Kembang kertas tumbuh pada ketinggian 400-1500
dari permukaan laut. Kembang kertas memerlukan intensitas cahaya tinggi.
Tumbuhan
kembang kertas tumbuh baik pada pasir berdrainase baik, tanah liat dengan pH 5-6.5.
Tetapi juga tumbuh dengan baik pada lahan berpasir asam, tidak toleran terhadap
air yang berlebih. Pada lahan yang memiliki humus subur dan lapisan tanah
dibawahnya asam.
Bunga
kertas termasuk kedalam bunga yang berjenis banci. Pada buka keratas tidak bisa
dibedakan mana antara kelompak bunga dan mahkota bunganya sendiri. Selain itu
bunga kertas juga memiliki benang sari dan putik. Bunga kertas ini termasuk
kedalam bunga bersimetri banyak.
2.4. Morfologi bunga adenium
Klasifikasi
bunga adenium
·
Kingdom: Plantae
·
Divisi: Magnoliophyta
·
Kelas: Magnoliopsida
·
Ordo: Gentianales
|
![]() |
·
Famili: Apocynaceae
·
Genus: Adenium
·
Spesies: Adenium obesum (Forssk.)
Roem. & Schult
Adenium
Obesum di Indonesia dikenal dengan kamboja jepang. Nama kamboja sendiri identik
dengan bunga ‘kuburan’, tetapi kamboja jepang (Adenium Obesum) dan kamboja
merupakan tanaman yang berbeda.
Perbanyakan
tamanan Adenium dapat melalui perbanyakan generatif dan vegetatif. Perbanyakan
generatif merupakan perbanyakan menggunakan biji. Anakan dari perbanyakan
menggunakan biji ini dapat meiliki sifat yang berbeda dari induknya, oleh
karena itu perbanyakan generatif biasa digunakan untuk mendapatkan variasi
bunga baru.
Perbanyakan
vegetatif merupakan perbanyakan dengan menggunakan bagian dari tanaman kecuali
bijinya. Perbanyakan vegetatif untuk Adenium meliputi setek, cangkok, okulasi,
sambung (Grafting), dan pemecahan akar. Perbanyakan vegetatif bertujuan untuk
mempertahankan sifat dan keunggulan tanaman
Adenium
ada yang berbatang besar dengan bagian bawah menyerupai umbi, namun sosok
tanamannya sendiri kecil dengan daun kecil panjang. Akar adenium juga dapat
membesar menyerupai umbi. Akar adenium yang membesar seperti umbi adalah tempat
menyimpan air sebagai cadangan disaat kekeringan. Akar yang membesar ini bila
dimunculkan di atas tanah akan membentuk kesan unik seperti bonsai.
Sedangkan
batangnya lunak tidak berkayu (disebut juga sebagai sukulen), namun dapat
membesar. Tunas-tunas samping dapat tumbuh dari mata tunas pada batang atau
bekas daun yang gugur. Mata tunas samping tersebut akan berfungsi (tumbuh)
apabila pucuk atas tanaman dipotong. Hal inilah yang dilakukan orang pada saat
memprunning atau memangkas, untuk mendapatkan daun baru dan agar bunga yang
akan muncul nantinya lebih serempak.
Daun
adenium ada berbagai ragam, bentuk lonjong, runcing, kecil dan besar, serta ada
yang berbulu halus, ada pula yang tanpa bulu. Sedangkan bunga adenium berbentuk
seperti terompet, berkelopak 5, dengan aneka ragam warna sesuai dengan jenis
(varietasnya) masing-masing. Sekarang sudah dikembangkan kelopak bunga yang
bersusun dan hasilnya sudah baik bahkan kelopak bunganya ada yang menyerupai
susunan bunga mawar.
III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum
Botani dan Sistematika Tanaman dilaksanakan pada hari Senin, 10 November 2014
pukul 11:00 WIB sampai dengan selesai di Laboratorium Bioteknologi, Fakultas
Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2. Alat dan Bahan
Alat:
1.
Kertas HVS
2.
Pulpen
3.
Pensil
4.
Penghapus
|
Bahan:
1.
Bunga sepatu
2.
Bunga kertas
3.
Bunga adenium
|
3.3. Cara Kerja
1.
Siapakan alat tulis
2.
Siapkan bahan macam-macam bunga yang
akan digunakan.
3.
Gambar macam-macam bunga yang sudah
disiapakan.
4.
Beri keterangan pada setiap gambar daun.
5.
Tulis rumus bunga
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
No
|
Nama Bunga
|
Gambar Bunga
|
Keterangan
|
1
|
Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
|
![]() |
Terdapat kelopak bunga, mahkota bunga,
benang sari dan putik .
|
2
|
Bunga Kertas (Bougenvilia spectabilis Willd)
|
![]() |
Terdapat kelopak bunga dan putik
bunga.
|
3
|
Bunga Adenium (Adenium obesum)
|
![]() |
Terdapat kelopak bunga dan benang sari
|
4.2. Pembahasan
Dari
hasil pengamatan morfologi yang sudah kami lakukan pada saat praktikum dengan
menggunakan bahan bermacam-macam bunga, diantaranya adalah bunga sepatu, bunga
kertas dan bunga adenium. Dari ketiga bunga tersebut kami mengetahui apakan
bunga tersebut termasuk kedalam bunga yang banci, jantan, ataupun betina.
Selain itu kami jadi mengetahui rumus bunga dari tiap-tiap bunga yang digunakan
pada saat praktikum.
Dari
hasil pengamatan pada bunga sepatu, kami
mendapatkan hasil bahwa pada bunga sepatu terdapat kelopak bunga, benang sari, dan
putik. Bunga sepatu merupakan bunga yang termasuk kedalam bunga banci. Bunga
banci adalah bunga yang memiliki dua alat kelamin yaitu benang sari dan putik.
Dalam
penulisan rumus bunga putik dilambang dengan
gynaecium [G] dan benang sari dilambangkan dengan adroecium [A], dan kelopak bunga dilambangkan dengan [K]. Jumlah
putik pada bunga sepatu ini sebanyak empat. Dan jumlah benang sarinya tak
terhingga. Dan jumlah kelopak bunga sepatu sebanyak lima kelopak bunga. Bunga
sepatu juga termasuk kedalam bunga yang bersimetri banyak. Sehingga penulisan
rumus bunga sepatu berdasarkan pengamatan yang dilakukan dinyatakan ☿ * K5, A∞,
G4.
Dari
hasil pengamatan pada bunga kertas, kami mendapatkan hasil bahwa pada bunga
kertas terdapat kelopak bunga dan putik bunga. Bunga kertas termasuk kedalam
bunga betina. Bunga betina (flos
femineus), yaitu bunga yang tidak mempunyai benang sari, tetapi hanya
memiliki putik saja.
Dalam
penulisan rumus bunga, putik dilambang dengan gynaecium [G]. Dan penulisan rumus bunga untuk kelopak bunga
dilambangkan dengan corolla [K]. Jumlah
putik bunga pada bunga kertas adalah tiga. Sedangkan jumlah kelopak bunganya
sebanyak lima. Bunga kertas juga sama seperti bunga sepatu termasuk kedalam
bunga yang bersimetri banyak. Sehingga dalam penulisan rumus bunga pada bunga
kertas adalah ♀ * K3, G5.
Dari
hasil pengamatan pada bunga adenium, kami mendapatkan hasil bahwa pada bunga
adenium terdapat kelopak bunga dan benang sari. Bunga adenium ini termasuk
kedalam bunga jantan. Bunga jantan (flos
masculus), jika pada bunga hanya terdapat benang sari tanpa putik.
Dalam
penulisan rumus bunga, kelopak bunga dilambangkan dengan corolla [K] dan benang sari dilambangkan dengan adroecium [A]. jumlah kelopak bunga pada
bunga adenium sebanyak lima kelopak bunga. Dan jumlah benang sari pada bunga
adenium tak terhingga. Sama seperti bunga sepatu dan bunga kertas, bunga
adenium termasuk kedalam bunga yang bersimetri banyak. Sehingga dalam penulisan
rumus bunganya adalah ♂ * K5, A∞.
V. PENUTUP
5.1. Simpulan
Bunga
(flos) adalah alat reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga divisi
Magnoliophyta atau Angiospermae. Pada bunga terdapat organ reproduksi, yaitu
benang sari dan putik. Bunga dikatakan sempurna jika dalam satu bunga terdapat
putik dan benang sari (kedua sel gamet. Bunga juga dikatakan lengkap jika terdapat
bagian lainnya seperti kepala putik, tangkai putik, bakal buah, kepala sari,
tangkai sari, mahkota, kelopak, dasar bunga dan tangkai bunga).
Dari
ketiga bunga yang kami bawa, masing-masing bunga mewakili macam-macam alat
kelamin pada bunga. Pada bunga sepatu termasuk kedalam bunga yang berkelamin
banci karena memiliki dua alat kelamin yaitu benang sari dan putik. Pada bunga
kertas termasuk kedalam bunga betina karena hanya memiliki putik saja tidak
memiliki benang sari. Dan pada bunga adenium termasuk kedalam bunga berkelamin
jantan karena hanya memiliki benang sari dan tidak memiliki putik.
Selain
itu dalam penulisan rumus bunga untuk kelopak dilambangkan dengan [K], mahkota
bunga [C], benang sari [A], dan putik [G]. Jika antara kelopak bunga dan mahkota
bunga tidak dapat dibedakan, untuk menyatakan bagian tersebut dinamkan tenda
bunga [P]. Penulisan rumus bunga, dibelakang huruf-huruf tersebut ditaruhkan
angka-angka yang dapat menyatakan jumlah bagian-bagian bunga tersebut. Antara
huruf dan angka diberikan tanda koma (,).
5.2. Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya agar bisa dilakukan lebih
efektif dan efisien dalam pelaksaan praktikum dan lebih kondusif.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. http://noberanagbio.blogspot.com/2011/11/bab-i
pendahuluan_9619.html (diakses pada tanggal 12 November 2014
pukul
08:30 WIB)
Islamiardela. 2014. http://islamiardela.wordpress.com/2014/04/16/rumus-bunga-dan-diagram-bunga/
(diakses pada tanggal 12 November 2014 pukul
08:30 WIB)
Mutiara, Tia. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta : Erlangga
Nail, A. Campbell. 2003. BIOLOGI. Jakarta : Erlangga.
Ratnasari, Juwita, SP. 2007. GALERI TANAMAN HIAS BUNGA. Bogor :
Penebar Swadaya.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah
Mada University Press.
Wijayakusumah, Prof. H.M. Hembing. 2000.
Ensiklopedia Milenium Tumbuhan.
Jakarta : Prestasi Insan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar