BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hama
merupakan semua jenis binatang yang dapat merusak dan menggangu pertumbuhan
tanaman yang sedang dalam pertumbuhan. Hama dapat menyebarkan kerusakan bahkan
sampai memberikan penyakit pada tanaman.
Dalam
kehidupan sehari-hari keberadaan serangga dilingkungan manusia ada yang
memberikan dampak yang positif dan ada yang memeberikan dampak negative. Dampak
positif yang diberikan dari keberadaan serangga adalah dapat membantu
penyerbukan tanaman berbunga yang merupakan sumber makanan bagi hewan serangga
lainnya dan membantu dalam dekomposisi tumbuhan dan hewan. Sedangkan, dampak
negative yang diberikan dari keberadaan serangga sangat dialami oleh para
petani yang lahan pertaniannya diserangi beberapa jenis serangga yang merusak
tanamannya, seperti lalat buah, wereng coklat, belalang, kepik hijau, dan
lain-lain.
Predator
merupakan jenis serangga yang memiliki musuh alami dan memakan serangga jenis
lain. Sedangkan serangga hama yang dimangsa disebut dengan pre. Ada beberapa
sifat yang dimiliki oleh serangga predator yaitu, monofag, oligofag, dan
polifag.
1.2. Tujuan
Praktikum
kali ini bertujuan agar praktikan mengetahui morfologi serangga predator dan
sifat-sifat yang dimiliki serangga predator.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Serangga
Serangga
adalah hewan yang teramsuk kedalam kelompok utama hewan beruas Arthopoda yang
memiliki tungkai enam atau tiga pasang. Dalam bahasa Yunani disebut Hexapoda
yang artinya berkaki enam. Kajian ilmu yang mempelajari tentang kehidupan serangga
disebut Entomologi. Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi
yang sangat tinggi. Lebih dari 800.000 spesies insekta sudah ditemukan.
Sebanyak 500 spesies bangsa capung (Ordata), 20.000 spesies bangsa belalang
(Orthopetra), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera),
120.000 bangsa lalat dan jenis lainnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik
(Hempitera), 360.000 spesies bangsa kumbang (Coleptera), dan 110.000 bangsa
lebah dan smeut (Hymenoptera).
2.2. Serangga Predator
Setiap
serangga bisa dikatakan sebagai hama ada juga sebagian yang dikatakan sebagai
predator. Serangga predator merupakan sebagian dari komplek komunitas yang
dikategorikan sebagai serangga yang memiliki musuh alami. Serangga predator ini
bisa saja memakan serangga jenis lainnya. Serangga yang dimangsa disebut dengan
pre. Serangga predator ini tumbuh dengan bebas.
Serangga
predator ini bermanfaat untuk karena mereka memakan jenis serangga hama
sehingga dapat menekan perkembangan serangan hama. Secara fisiologi, serangga
predator memiliki bentuk tubuh yang lebih besar dari serangga hama (mangsa).
Keberadaan
serangga ini tidaklah banyak karena banyak yang belum mengetahui secara khusus
fungsi dari serangga predator ini. Banyak sekali serangga predator yang cenderung
jumlahnya sedikit bahkan sampai punah. Keberadaan serangga predator yang
berkurang ini tidak jauh dari akibat tingkah laku manusia.
Penurunan
hasil pertanian karena serangan hama dapat merugikan para petani. Perlu
dilakukan beberapa penanggulangan untuk menekan serangaan yang yang ditimbulkan
dari hama tersebut. Penanggulangan serangan hama bisa dilakukan dengan
mengembangbiakan serangga predator (musuh alami), memperbaiki cara bercocok
tanam, menggunakan pestisida yang alami, dan mengkombinasikan cara-cara
lainnya.
Yang
termasuk kedalam serangga predator diantaranya adalah Ordo Coleoptera, Ordo
Hymenoptera, Ordo Odonata, Ordo Diptera. Ordo tersebut adalah sebagian kecil
dari macam Ordo yang memiliki spesies sebagai serangga predator.
1.
Ordo Coleoptera
Coleoptera
berasala dari bahasa Latin coleos = perisai, pteron = sayap, berarti insekta
bersayap perisai.
Ciri-ciri
ordo Coleoptera adalah :
·
Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap
depan dan sayap belakang. Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang
mengandung zat tanduk sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis
seperti selaput.
·
Mengalami metamorfosis sempurna.
·
Tipe mulut menggigit.
·
Contoh : Kumbang kelapa (Oycies
rhinoceros), Kutu gabah (Rhyzoperta dominica)
2.
Ordo Hymenoptera
Ciri-ciri
ordo hymenoptera adalah :
·
Mengalami metamorfosis sempurna.
·
Tipe mulut menggigit dan ada yang
kombinasi untuk menggigit dan menjilat.
·
Contoh : Lebah madu (Apis), tawon
(Xylocopa latipes), semut hitam (Monomorium sp.).
3.
Ordo Diptera
Ciri-ciri
ordo diptera adalah :
·
Memiliki satu pasang sayap depan dan
sayap belakang mengalami redukasi membentuk halter (alat keseimbangan).
·
Mengalami metamorfosis sempurna.
·
Tipe mulut menusuk dan menghisap serta
menjilat.
·
Dan memiliki tubuh ramping.
·
Contoh: Nyamuk rumah (Culex pipiens),
nyamuk malaria (Anopheles sp.), nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), lalat
buah (Drosophila melanogaster), lalat tsetse (Glossina palpalis).
4.
Ordo Odonata.
Ciri-ciri
yang dimiliki oleh ordo homoptera adalah :
·
Memiliki dua pasang sayap tipis seperti
selaput.
·
Mengalami metamorfosis tidak sempurna.
·
Tipe mulut menggigit.
·
Contoh : Capung (Aesha sp).
A. Kumbang
koksi
Kumbang koksi
merupakan salah satu dari ordo Colepotera yang merupakan serangga predator.
Kumbang koksi ini banyak disebut juga sebagai kumbang kepik karena memiliki
bentuk tubuh yang hampir sama dengan kepik.
|
![]() |
Kumbang
koksi atau kumbang kepik merupakan serangga predator yang dapat menguntungkan
bagi para petani, karena umumnya serangga predator kumbang koksi ini menyerang
serangga apidhs, kutu putih, tugau, kutu air kipas, dan kumbang tepung. Selain
menjdai serangga predator, kumbang koksi ini juga dapat memakan daun tanaman
sehingga bisa bersifat sebagai hama tanaman.
Serangga
kumbang koksi ini sangat mudah dikenali karena memiliki bentuk yang bulat kecil
dan pada bagian punggungnya memiliki warna yang berwara-warni dengan jenis
bintik-bintik.
Klasifikasi
kumbang koksi
·
Kingdom :
Animalia
·
Phylum :
Arthropoda
·
Class :
Insekta
·
Ordo :
Coleoptera
·
Subfamili : Coccinellinae
·
Famili :
Coccinellidae
·
Gen :
Coccinella
·
Species :
Coccinella
septempunctata
B. Semut
merah atau Semut rangrang
Semut (Hymenoptera:
Formicidae) memiliki jumlah jenis dan populasi yang berlimpah, terdiri dari
16 sub famili, 296 genus dan 15.000 spesies yang telah teridentifikasi.
Keberadaan
|
![]() |
dari
semut merupakan salah satu peranan yang penting dalam suatu ekosistem.
Keberadaan semut mampu mengindikasikan kesehatan suatu ekosistem dan memberikan
gambaran pada kehadiran organisme lain, karena banyaknya interaksi semut dengan
berbagai tumbuhan maupun hewan lain.
Klasifikasi
semut merah atau semut rangrang
·
Kingdom :
Animalia
·
Filum :
Arthropoda
·
Kelas :
Insecta
·
Ordo :
Hymenoptera
·
Famili :
Formicidae
·
Genus :
Oecophylla
·
Spesies :
Oecophylla
smaragdina
Semut
rangrang (Oecophylla) terdapat dua spesies semut rangrang yaitu O. smaragdina
yang tersebar di India, Asia Tenggara sampai Australia dan O. longinoda yang
tersebar di benua Afrika (Holldobler & Wilson, 1990 dalam Harlan, 2006).
Oecophylla dicirikan dengan ukuran tubuh yang besar memanjang, berwarna cokelat
kemerahan atau hijau, dan tidak memiliki sengat. Semut ini merupakan serangga
sosial, hidup dalam suatu masyarakat yang disebut koloni.
Semut
ini bersifat predator dan agresif, karena sifatnya ini Oecophylla sering
digunakan sebagai agens pengendali hayati. Sebuah arsip dari Cina bagian
selatan memperlihatkan bahwa sarang semut rangrang dipanen, dijual dan
diletakkan di pohon jeruk untuk memberantas serangga hama sejak lebih dari 1000
tahun yang lalu.
Selain
itu semut rangrang dapat mengganggu, menghalangi atau memangsa berbagai jenis
hama seperti kepik hijau, ulat pemakan daun, dan serangga pemakan buah. Populasi
semut rangrang yang tinggi dapat mengurangi permasalahan hama tungau, pengorok
daun dan penyakit greening/ citrus
dieback yang ditularkan melalui kutu loncat pada tanaman jeruk. Kemampuan semut
rangrang ini memberikan peluang besar menjadi musuh alami hama tanaman.
C. Capung
Capung adalah
kelompok serangga yang termasuk dalam ordo Odonata, banyak dijumpai di
tempat-tempat terbuka yang tidak jauh dari lingkungan perairan dengan
intensitas sinar matahari yang cukup, dan suhu yang hangat (250C – 330C).
Di dunia tercatat lebih
|
![]() |
5500
jenis capung yang sudah teridentifikasi, sedangkan di Indonesia diketahui lebih
dari 700 jenis capung yang sudah teridentifikasi.
Klasifikasi
capung
·
Kingdom :
Animalia
·
Sub kingdom : Invertebrata
·
Filum :
Arthropoda
·
Kelas :
Insecta
·
Ordo :
Neuroptera
·
Familia :
Aeschnidae
·
Genus :
Anax
·
Spesies :
Anax
imperator
Capung
(Ordo:Odonata) merupakan salah satu musuh alami yang penting untuk dunia
pertanian, selain sebagai bioindikator lingkungan bersih dan memiliki sifat
polifaga. Nimfa capung menjadi predator bagi protozoa, larva nyamuk, ikan
kecil, crustacea yang berukuran kecil ( Daphnia sp., Cyclops sp.) dan
hewan-hewan yang kecil lainnya.
Sedangkan
imago capung berperan sebagai predator bagi serangga, seperti nyamuk, lalat,
kupu-kupu, wereng, dan capung dari spesies yang sama maupun berbeda. Dalam
jaring-jaring makanan, capung juga menjadi mangsa bagi burung, laba-laba, dan
katak.
D. Lalat
Banyak orang yang
tidak menyukai keberadaan lalat. Pada manusia lalat dapat mendatangkan
penyakit, dengan cara menyebarkan virusnya pada makanan, minuman atau yang
lainnya. Bagi para petani lalat juga
merupakan serangga yang dapat menguntungkan.
|
![]() |
Klasifikasi
lalat
·
Kingdom :
Animalia
·
Filum :
Arthopoda
·
Kelas :
Insekta
·
Subkelas :
Pterygota
·
Ordo :
Diptera
·
Famili :
Asilidae
·
Genus :
Leptogaster
·
Spesies :
Leptogaster
miegan
Lalat
(Ordo: Diptera) merupakan salah satu serangga predator. Banyak jenis-jenis
lalat yang bisa dikatakan sebagai serangga predator. Diantaranya lalat kaki
panjang, lalat bunga, lalat jala, dan lalat buas. Pada lalat kaki panjang
dikatakan sebagai serangga predator karena memakan serangga yang berukuran
kecil. Lalat ini dapat ditemukan di kebun the. Larva lalat kaki panjang ini
memakan kutu daun dan serangga kecil lain yang relatif kecil.
Lalat
bunga merupakan serangga predator karena lalat ini memangsa kutu daun dan
serangga kecil lainnya. Biasanya lalat ini dapat ditemukan di seluruh kebun,
dan dibeberapa pepohonan saja. Lalat jala juga sama merupakan sebagai predator
karena memakan kutu putih dan serangga kecil lainnya. Lalat jala ini dapat
ditemukan disekitaran kebun the. Dibeberapa negara, lalat jala ini
dikembangbiakan dan dilepas sebagai agen hayati untuk mengendalikan hama.
Lalat
buas merupakan pemangsa hama yang efektif. Serangga ini merupakan predator yang
dapt memakan serangga kecil bahkan serangga yang lebih besar darinya. Lalat ini
menangkap serangga yang dapat terbang dan juga yang menghinggap pada tanaman
atau yang berada dipermukaan tanah. Lalat buas ini merupakan serangga predator
pada serangan hama penggerek buah kopi.
2.3. Serangga Parasitoid
Parasitoid
merupakan serangga yang memparasitisasi jenis serangga atau arhtropoda lainnya.
Serangga ini bersifat parasit pada fase sebelum dewasa dan hidup bebas ketika
memasuki fase dewasa. Pada umumnya, parasitoid membunuh inang, namun dalam
beberapa keadaan, inang bisa hidup dulu sebelum mengalami kematian.
Dalam
hubungan parasit khusus, parasit dan inang hidup berdampingan tanpa kerusakan
mematikan pada inang. Biasanya parasit mengambil sumberdaya makanan dari inang
untuk tumbuh tanpa mencegah inang berkembang biak. Dalam hubungan parasitoid,
inang dibunuh normalnya sebelum menghasilkan keturunan.
Jenis-jenis
parasitoid menurut hubungan dengan inang
a.
Idiobiont
Indiobiont
adalah parasit yang mencegah pertumbuhan inang setelah mulai memparasit atau
oviposisi bahkan membunuh inangnya. Pada umumnya berkembang pada tahapan
hidup inang yang inaktif (mis, telur atau pupa). Trichogramma sp adalah contoh serangga yang termasuk parasitoid
jenis ini.
b.
Koinobiont
Koinobiont
merupakan parasitoid yang memungkinkan inang terus berkembang. Parasitoid
jenis ini tidak membuat inang terbunuh, hanya mengambil bahan makanan dari
inang hingga menjadi kepompong ataupun dewasa dan pada umumnya parasitoid
jenis ini hidup dalam fase inang aktif.
Koinobiont
dapat dibagi lagi menjadi endoparasitoid, yang tumbuh dalam tubuh inangnya, dan
ektoparasitoid, yang tumbuh di luar badan inang, meskipun sering terikat atau
melekat dengan jaringan inang. Contoh parasitoid jenis ini misalnya Diadegma eucerophaga parsitoid larva Plutella xylostella dan lalat jatiroto
yang merupakan parasitoid larva penggerek batang tebu.
c.
Multiparasitisme
Multiparasitisme
adalah parasitisme terhadap inang yang sama oleh lebih dari satu jenis
parasitoid primer.
d.
Superparasitisme
Superparatisme
adalah parasitisme satu inang oleh banyak parasitoid dari jenis yang
sama.
e.
Hiperparasitoid atau parasitoid sekunder
Dimana
inang dan parasitoid primer dibunuh, jenis ini sebagian besar diketahui
termasuk ordo Hymenoptera.
Beberapa
ordo serangga yang berpotensi sebagai parasitoid :
1.
Ordo Coleoptera
Coleoptera
berasala dari bahasa Latin coleos = perisai, pteron = sayap, berarti insekta
bersayap perisai.
Ciri-ciri
ordo Coleoptera adalah :
·
Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap
depan dan sayap belakang. Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang
mengandung zat tanduk sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis
seperti selaput.
·
Mengalami metamorfosis sempurna.
·
Tipe mulut menggigit.
·
Contoh : Kumbang kelapa (Oycies
rhinoceros), Kutu gabah (Rhyzoperta dominica)
2.
Ordo Hymenoptera
Ciri-ciri
ordo hymenoptera adalah :
·
Mengalami metamorfosis sempurna.
·
Tipe mulut menggigit dan ada yang
kombinasi untuk menggigit dan menjilat.
·
Contoh : Lebah madu (Apis), tawon
(Xylocopa latipes), semut hitam (Monomorium sp.).
3.
Ordo Diptera
Ciri-ciri
ordo diptera adalah :
·
Memiliki satu pasang sayap depan dan
sayap belakang mengalami redukasi membentuk halter (alat keseimbangan).
·
Mengalami metamorfosis sempurna.
·
Tipe mulut menusuk dan menghisap serta
menjilat.
·
Dan memiliki tubuh ramping.
·
Contoh: Nyamuk rumah (Culex pipiens),
nyamuk malaria (Anopheles sp.), nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), lalat
buah (Drosophila melanogaster), lalat tsetse (Glossina palpalis).
4.
Ordo Lepidoptera
Ciri-ciri
ordo Lepidoptera adalah :
·
Memiliki dua pasang sayap yang bersisik
halus.
·
Mengalami metamorfosis sempurna.
·
Tipe mulut pada tahap larva menggigit,
sedangkan pada tahap dewasa menghisap.
·
Mata fasetnya besar.
·
Contoh: Kupu-kupu Swallowtail, kupu-kupu
sutera (Bombyx mori), kupu-kupu elang
(Acherontia atropos).
2.4. Serangga Patogen
Patogen
serangga adalah mikroorganisme (cendawan, bakteri, virus, protozoa, nematode
dan mikroba lainnya) yang dapat menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit
pada serangga hama. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menibulkan
penyakit pada serangga disebut “mikroorganisme entomopatogen”.
Karakteristik Patogen :
Karakteristik Patogen :
·
Menyebabkan pertumbuhan terhambat,
menghambat reproduksi, membunuh inang
·
Memiliki target inang spesifik atau
stadium spesifik
·
Efektifitas sangat tergantung pada
kondisi lingkungan
·
Dapat menyebabkan epizootic (ledakan
[enyakit di dalam populasi serangga)
·
Tingkat pengendalian tidak dapat
diprediksi, relative lambat (memerlukan waktu untuk dapat mengendalikan)
Jenis
dan Ciri-ciri serangga pathogen:
1.
Cendawan
Cendawan
yang berfungsi sebagai cendawan pathogen seranggan pada umumnya dari kelas
Deuteromycetes, ordo Moniliales, famili Moniliaceae, seperti Beauveria bassinana, Metarhizium sp.,
Hirsutella citriformi, Nomuraea rileyi.
Cendawan
mematikan hama dengan cara mengifeksi tubuh inang. Perkembangan infeksi sangat
dipengarhi kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban yang tinggi). Suhu optimum
untuk pertumbuhan cendawan pathogen 23-25 °C.
a. Beauveria
bassiana
Beauveria bassiana termasuk
dalam golongan pathogen serangga ordo Monililes, famili Moniliaceae.
Cirri-cirinya antara lain:
·
Cendawan berwarna putih, penyebaran
spora melalui air atau terbawa angina
·
Menginfeksi serangga melalui integument/jaringan
lunak. Selanjutnya hifa tumbuh dari konidia dan merusak jaringan
·
Cendawan tumbuh keluar dari tubuh inang
pada saat cendawan siap menghasilkan spora untuk disebarkan
·
Apabilakeadaan tidak mendukung,
perkembangan cendawan hanya berlangsng didalam tubuh serangga tanpa keluar
menembus integument.
·
Tubuh serangga mati yang terinfeksi B
bassiana mengeras seperti mumi
·
Serangga inang dari cendawan ini adalah
berbagai jenis wereng,penggerek batang padi, hama putih palsu, walang sangit,
kepinding tanah, ulat rayak, Aphis, Ulat daun dll.
b. Metarhizium
sp
Metarhizium sp
termasuk golongan pathogen serangga ordo Moniles, famili Moniliaceae. Ciri-cirinya
antara lain:
·
Cendawan berwarna putih, penyebaran
spora melalui air atau terbawa angin
·
Spora menginfeksi tubuh serangga melalui
integument/jaringan lunak. Selanjutnya hifa tumbuh dari konidia dan merusak
jaringan
·
Cendawan berkembang membentuk hifa putih
yang keluar dari tubuh inang pada saat cendawan siap menghasilkan spora untuk
disebarkan
·
Pada saat spora terbentuk, cendawan
pathogen berubah warna menjadi hijau gelap (M. anisopliae), atau hijauderah (M.
flvoride)
·
Serangga inang dari cendawan ini adalah
berbagai jenis wereng, kepik, dan kumbang.
2.
Bakteri
Bakteri
Patogen serangga yang banyak dimanfaatkan dan diproduksi secara komersial
sebagai insektisida mikroba adalah Bacillus thuringiensis. Bakteri ini termasuk
dalam famili Bacillaceae, menghasilkan metabolic sekunder berlangsung ketika
masa pertumbuhan vegetatif atau sporulasi. Ciri-cirinya antara lain:
·
Serangga yang terinfeksi B. thurigensis
menunjukkan gejala penurunan aktifitas makan dan cenderung mencari perlindungan
(dibawah daun/tempat tersembunyi).
·
Larva mengalami diare, mengeluarkan
cairan dari mulutnya, mengalami lumpuh dan akhirnya mati
·
Serangga inang dari bakteri ini adalah
Plutella xylostela, Crocidolomia
binotalis, Helicoverpa armigera, Spodoptera exigua, Hama kelapa sawit dan kedelai.
binotalis, Helicoverpa armigera, Spodoptera exigua, Hama kelapa sawit dan kedelai.
3.
Virus (NPV = Nuclear Pholyhedrosis Virus)
NPV
(Nuclear Pholyhedrosis Virus)
merupakan virus serangga tergolong dalam famili Baculoviridae (baculovirus). Ciri-cirinya
antara lain:
·
Ciri yang khas yaitu berupa bahan
inklusi (inclusion bodies) berbentukpolyhedral yang merupakan kristal protein
pembungkus virion, dengan diameter 0,2-20µm, sedang vironnya berbentuk batang
berukuran40-70x200-400 µm.
·
Larva yang terinfeksi menunjukkan gejala
serangan 1-2 hari setelah polyhedral termakan.
·
NPV menyerang larva asing inang yang
spesifik.
·
Serangga inang NPV adalahSl-NPV (untuk
Spodoptera litura), Se-NPV (untuk S. exigua pada tanaman bawang merah) dan Ha-NPV
(Helicoverpa armigera pada tanaman tomat dan jagung).
4.
Nematoda
Nematoda
pathogen serangga (NPS) yang beerpotensi untuk dimanfaatkan sebagai agen
pengendali hama adalah Steinernema dan Heterorhabditis. Ciri-cirinya antara
lain:
·
Serangga bersifat aktif mencari mangsa
dan mampu mencapai serangga yang teletak dalam habitat tersembunyi dalaml liang
gerek dan di dalam tanah.
·
Masuk dalam tubuh serangga inang melalui
lubang-lubang alami atau melalui membrane antar skeleton
·
Stadia infektif adalah instar ke tiga
yang disebut Juvenil Infektif (JI)
·
Setelah 1-2 minggu, Juvenil Infektif
baru yang terbentuk meninggalkan tubuh serangga mati dan mencari inang baru.
·
Serangga inang dari kedua genus nematode
tersebut bersifat patogenik terhadap 25 % species serangga dari 10 ordo dan
bahkan tifdak kurang dari 200 species serangga dari 6 ordo sangat rentan
terhadap infeksi NPS.
Serangga
ada yang bersifat sebagai predator yaitu merupakan serangga musih alami yang
bisa memakan sesama jenis serangga. Keberadaan serangga ini bisa menekan
perkembangan serangan hama yang bisa merugikan para petani. Namun, keberadaan
serangga predator ini tidaklah banyak karena tingkat laku manusia sendiri.
Selain
serangga predator, adapula serangga parasitoid. Serangga parasitoid ini
merupakan jenis serangga yang tumbuh diatas atau tumbuh didalam tubuh binatang
inang yang lebih besar yang merupakan inangnya. Serangga pathogen merupakan
jenis mikrooragnisme yang dapat menyebabkan infeksi dan penyakit pada serangga
hama.
Kompetisi
antar serangga terjadi karena adanya keinginan untuk mempertahankan
kelangsungan hidup dari akibat kepadatan populasi yang sedemikian rupa
naikknya, sehingga kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan makanan, tempat tinggal,
dan kebutuhan hidup lainnya dari populasi tersebut menjadi diluar kemampuan
alam dilingkungan untuk menyediakannya.
Karena
pada akhirnya kompetisi ini dapat mendorong terjadinya perpindahan atau
kematian sekelompok serangga, dalam kaitannya dapat dibedakan menjadi dua tipe
kompetisi, yaitu:
·
Kompetisi intraspesifik
Kompetisi
intraspesifik ini adalah persaingan yang terjadi antar individu-individu dalam
satu spesies populasi.
·
Kompetisi interspesifik
Kompetisi
interspesifik ini adalah kompetisi yang terjadi pada dua spesies atau dua populasi
yang lebih banyak.
2.5. Kisaran Tumbuhan Inang
Dalam
kenyataannya serangga ada yang tergolong dalam serangga predator, serangga
parasitoid, dan serangga pathogen tetap harus mempertahankan kehidupannya. Para
serangga membutuhkan makanan sebagai penunjang kehidupannya. Makanan merupakan
faktor dalam yang dibutuhkan oleh para serangga.
Cara
hidup serangga fitofag beragam. Ada yang hidup di permukaan tanaman, ada juga
yang tinggal dalam jaringan tanaman dengan cara mengorok, menggerek atau
membentuk puru. Selain itu, ada juga yang hidup di dalam tanah disekitar
permukaan. Serangga fitofag adalah serangga atau hewan serangga atau hewan yang
menjadi hama yang memakan tanaman. Berdasarkan kisaran tumbuhan inang, serangga
fitofag dibedakan menjadi 3 bagian, dianatarnya:
a.
Monofag
Monofag
adalah kelompok serangga yang mempunyai tanaman inang hanya pada satu atau
beberapa spesies dari family tertentu. Contoh serangga monofag ini adalah hama
penggerek batang padi kuning (Scirpophaga
incertulas). Serangga yang termsuk kedalam monofag ini lebih mudah
dikendalikan dengan cara tidak menanami lahan dengan tanaman yang menjadi
makanan.
b.
Oligofag
Oligifag
adalah serangga yang berkembang yang hidup dan makan pada sejumlah beberapa spesies
tumbuhan dari satu family. Contohnya adalah, hama ulat daun kubis (Plutella
xylostella) yang memakan tumbuhan dari family Cruciferae.
c.
Polifag
Polifag
adalah serangga yang banyak memakan jenis tumbuhan dari berbagai family. Contoh
serangga yang tergolong kedalam polifag adalah, ulat grayak utama (Spodoptera litura) dan hama penggerek tongkol (Helicoverpa armigera).
BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum
Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Oktober 2014
pukul 07:00 WIB sampai dengan selesai yang bertempat di Laboratorium
Bioteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2. Alat dan Bahan
Alat
dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat tulis berupa
pensil, pulpen, penghapus dan kertas HVS. Bahan yang digunakan pada saat
praktikum jenis serangga predator dari ordo coleopteran, hymenoptera, odonata,
diptera.
3.3. Cara Kerja
1. Siapkan
alat tulis.
2. Amati
setiap moroflogi serangga non hama (predator).
3. Gambar
setiap bagian-bagian tubuh serangga dan beri keterangan.
4. Beri
keterangan pada setiap serangga yang diserang atau menyerang, dan
sifat-sifatnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
No.
|
Gambar
|
Serangga
yang Dimakan
|
1
|
![]()
Kumbang Koksi
|
Serangga predator dari Ordo Colepotera
ini seperti tungau, apidhs, kutu putih, kutu air kipas, dan kumabng tepung.
Selain serangga yang berukuran kecil serangga predator ini juga memiliki
musuh alami yaitu, kelelawar, burung, tikus, dan rakun.
|
2
|
![]()
Semut Merah atau Semut Rangrang
|
Serangga predator yang mekan kepik
hijau, ulat pemakan daun, dan serangga pemakan buah, hama tungau, pengorok
daun dan penyakit greening/ citrus
dieback yang ditularkan melalui kutu loncat pada tanaman jeruk
|
3
|
![]()
Capung
|
Nimfa capung menjadi predator bagi
protozoa, larva nyamuk, ikan kecil, crustacea yang berukuran kecil (Daphnia sp., Cyclops sp.) dan
hewan-hewan yang kecil lainnya. Sedangkan imago capung berperan sebagai
predator bagi serangga, seperti nyamuk, lalat, kupu-kupu, wereng, dan capung
dari spesies yang sama maupun berbeda.
|
4
|
![]()
Lalat
|
Memakan berbagai serangga hama yang
berukuran lebih kecil, kutu putih, dan kutu daun
|
4.2. Pembahasan
Dari
praktikum yang sudah dilakukan, praktikan jadi mengetahui serangga predator.
Serangga predator pada umumnya terdapat pada Ordo diptera (lalat), Ordo Coleoptera
(kumbang koksi), Ordo hymenoptera (semut merah atau semut rangrang), dan Ordo
odonata (capung).
Serangga
diakatakn sebagai serangga predator karena memangsa sesama serangga, baik
serangga yang berukuran kecil maupun besar. Lalat (Ordo: diptera) merupakan
serangga predator yang banyak membantu para petani dalam mengurangi serangan
dari serangga hama. Lalat ini pada saat imago (dewasa) merupakan bagian dari
pengendalian hayati. Lalat yang menjadi predator dapat memakan jenis serangga
seperti kutu daun, dan hama yang menyerang perkebunan kopi.
Serangga
yang termasuk kedalam Ordo Diptera ini memiliki cirri satu pasang sayap
didepan, mengalami metamorphosis secara sempurna, memiliki tubuh yang kecil,
ramping. Memiliki tipe mulut yang bervariasi, ada yang menjilat, menghisap
bahkan menusuk.
Kumbang
koksi (Ordo Colepotera) atau banyak orang menyebutnya kumbang kepik merupakan
serangga predator yang dapat menguntungkan bagi para petani, karena umumnya
serangga predator kumbang koksi ini menyerang serangga apidhs, kutu putih,
tugau, kutu air kipas, dan kumbang tepung. Selain menjadi serangga predator,
kumbang koksi ini juga dapat memakan daun tanaman sehingga bisa bersifat
sebagai hama tanaman.
Serangga
dengan Ordo Coleoptera ini memiliki cirri-ciri, dua pasang sayap, yaitu sayap
depan dan sayap belakang. Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang
mengandung zat tanduk sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis
seperti selaput. Mengalami metamorfosis sempurna. Tipe mulut menggigit.
Semut
merah atau semut rangrang (Ordo: Hymenoptera) merupakan serangga predator
karena semut rangrang dapat mengganggu, menghalangi atau memangsa berbagai
jenis hama seperti kepik hijau, ulat pemakan daun, dan serangga pemakan buah.
Populasi
semut rangrang yang tinggi dapat mengurangi permasalahan hama tungau, pengorok
daun dan penyakit greening/citrus dieback
yang ditularkan melalui kutu loncat pada tanaman jeruk. Kemampuan semut
rangrang ini memberikan peluang besar menjadi musuh alami hama tanaman.
Serangga
predator dengan Ordo Hymenoptera memiliki cirri-ciri mengalami metamorphosis
secara sempuran. Tipe mulut yang dimiliki adalah tipe menggigit, selain itu ada
juga yang dikombinasikan dengan tipe mulut menggigit dan menjilat.
Capung
(Ordo: Odonata) serangga predator yang banyak dijumpai di tempat-tempat terbuka
yang tidak jauh dari lingkungan perairan dengan intensitas sinar matahari yang
cukup, dan suhu yang hangat (250C – 330C).
Capung
merupakan salah satu musuh alami yang penting untuk dunia pertanian, selain
sebagai bioindikator lingkungan bersih dan memiliki sifat polifaga. Nimfa
capung menjadi predator bagi protozoa, larva nyamuk, ikan kecil, crustacea yang
berukuran kecil ( Daphnia sp., Cyclops sp.) dan hewan-hewan yang
kecil lainnya.
Sedangkan
imago capung berperan sebagai predator bagi serangga, seperti nyamuk, lalat,
kupu-kupu, wereng, dan capung dari spesies yang sama maupun berbeda. Dalam
jaring-jaring makanan, capung juga menjadi mangsa bagi burung, laba-laba, dan
katak.
Cirri-ciri
serangga yang termasuk kedalam Ordo Odonata ini Memiliki dua pasang sayap tipis
seperti selaput. Mengalami metamorfosis tidak sempurna. Tipe mulut menggigit.
BAB V
PENUTUP
5.1. Simpulan
Dari
praktikum yang sudah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa serangga bukan hanya
menggangu atau merusak tanaman. Adapula beberapa serangga yang dapat membantu
para petani menekan pertumbuhan serangan serangga hama. Serangga predator
merupakan jenis serangga yang menjadi musuh alami. Serangga ini memakan sesama
jenis serangga. Biasanya bentuk fisik serangga predator ini lebih besar dari
serangga hama yang dimangsa.
Bukan
hanya serangga predator, ada pula serangga parasitoid yang merupakan jenis serangga
yang memparasitasi jenis serangga lainnya. Serangga ini menyerang pada inang
lalu inang secara perlahan akan mengalami kematian. Serangga pathogen mikroorganisme
(cendawan, bakteri, virus, protozoa, nematode dan mikroba lainnya) yang dapat menyebabkan
infeksi dan menimbulkan penyakit pada serangga hama.
Pada
serangga terjadi yang namanya kompetisi. Kompetisi merupakan cara bertahan
hidup yang diguanakan untuk bersaing mendapatkan makanan, tempat hidup, dan
lain-lain.
5.2. Saran
Saran
untuk praktikum selanjutnya semoga tidak terjadi kendala pada saat praktikum.
Semoga praktikum selanjutnya bisa dilaksankan dengan lebih efektif, dan
efisiesn.
DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 1991. KUNCI DETERMINASI SERANGGA,
Program Nasional Pelatihan dan Pengembangan Pengendalian Hama Terpadu.
Yogyakarta : KANISIUS.
Bernadeta Putri Irma Dalia , Amin Setyo
Leksono. 2014. INTERAKSI ANTARA CAPUNG
DENGAN ARTHROPODA DAN VERTEBRATA PREDATOR DI KEPANJEN, KABUPATEN MALANG. Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya
Malang. Jurnal Biotropika | Vol. 2 No. 1
Harlan, I. 2006. Aktivitas Pencarian Makan Dan Pemindahan Larva Semut Rangrang
Oecophylla smaragdina (Formicidae: Hymenoptera). IPB. Bogor.
Purnomo, Hari. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati.
Yogyakarta : CV Andi OFFSET.
Pracaya,
Ir. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman.
Depok : Penebar Swadaya.
Surahman, Enceng. 2007. Hama Tanaman Pangan, Holtikultura, dan
Perkebunan. Yogyakarta : KANISIUS.
Administrator.
http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsurabaya/berita-405-apa-sih-parasitoid-itu-.html
(diakeses pada hari Sabtu tanggal 1 November 2014 pukul 21:21 WIB).
Anonym.
http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpambon/berita-257-mengenal-lebih-dekat-semut-rangrang-oecophylla-smaragdina-sebagai-predator-.html
administrator. 2013. (diakses pada hari Sabtu tanggal 1
November 2014 pukul 21:27 WIB ).
Fitriced.
2010. http://fitriced.wordpress.com/2010/06/20/laporan-praktikum-ihtd-kisaran-inang/
(diakses pada hari Sabtu tangga 1 November 2014 pukul 22:35 WIB).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar