Selasa, 17 November 2015

Laporan Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman "MORFOLOSI SERANGGA PREDATOR"



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Hama merupakan semua jenis binatang yang dapat merusak dan menggangu pertumbuhan tanaman yang sedang dalam pertumbuhan. Hama dapat menyebarkan kerusakan bahkan sampai memberikan penyakit pada tanaman.
Dalam kehidupan sehari-hari keberadaan serangga dilingkungan manusia ada yang memberikan dampak yang positif dan ada yang memeberikan dampak negative. Dampak positif yang diberikan dari keberadaan serangga adalah dapat membantu penyerbukan tanaman berbunga yang merupakan sumber makanan bagi hewan serangga lainnya dan membantu dalam dekomposisi tumbuhan dan hewan. Sedangkan, dampak negative yang diberikan dari keberadaan serangga sangat dialami oleh para petani yang lahan pertaniannya diserangi beberapa jenis serangga yang merusak tanamannya, seperti lalat buah, wereng coklat, belalang, kepik hijau, dan lain-lain.
Predator merupakan jenis serangga yang memiliki musuh alami dan memakan serangga jenis lain. Sedangkan serangga hama yang dimangsa disebut dengan pre. Ada beberapa sifat yang dimiliki oleh serangga predator yaitu, monofag, oligofag, dan polifag.
1.2. Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan agar praktikan mengetahui morfologi serangga predator dan sifat-sifat yang dimiliki serangga predator.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Serangga
Serangga adalah hewan yang teramsuk kedalam kelompok utama hewan beruas Arthopoda yang memiliki tungkai enam atau tiga pasang. Dalam bahasa Yunani disebut Hexapoda yang artinya berkaki enam. Kajian ilmu yang mempelajari tentang kehidupan serangga disebut Entomologi. Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Lebih dari 800.000 spesies insekta sudah ditemukan. Sebanyak 500 spesies bangsa capung (Ordata), 20.000 spesies bangsa belalang (Orthopetra), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), 120.000 bangsa lalat dan jenis lainnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik (Hempitera), 360.000 spesies bangsa kumbang (Coleptera), dan 110.000 bangsa lebah dan smeut (Hymenoptera).
2.2. Serangga Predator
Setiap serangga bisa dikatakan sebagai hama ada juga sebagian yang dikatakan sebagai predator. Serangga predator merupakan sebagian dari komplek komunitas yang dikategorikan sebagai serangga yang memiliki musuh alami. Serangga predator ini bisa saja memakan serangga jenis lainnya. Serangga yang dimangsa disebut dengan pre. Serangga predator ini tumbuh dengan bebas.
Serangga predator ini bermanfaat untuk karena mereka memakan jenis serangga hama sehingga dapat menekan perkembangan serangan hama. Secara fisiologi, serangga predator memiliki bentuk tubuh yang lebih besar dari serangga hama (mangsa).
Keberadaan serangga ini tidaklah banyak karena banyak yang belum mengetahui secara khusus fungsi dari serangga predator ini. Banyak sekali serangga predator yang cenderung jumlahnya sedikit bahkan sampai punah. Keberadaan serangga predator yang berkurang ini tidak jauh dari akibat tingkah laku manusia.
Penurunan hasil pertanian karena serangan hama dapat merugikan para petani. Perlu dilakukan beberapa penanggulangan untuk menekan serangaan yang yang ditimbulkan dari hama tersebut. Penanggulangan serangan hama bisa dilakukan dengan mengembangbiakan serangga predator (musuh alami), memperbaiki cara bercocok tanam, menggunakan pestisida yang alami, dan mengkombinasikan cara-cara lainnya.
Yang termasuk kedalam serangga predator diantaranya adalah Ordo Coleoptera, Ordo Hymenoptera, Ordo Odonata, Ordo Diptera. Ordo tersebut adalah sebagian kecil dari macam Ordo yang memiliki spesies sebagai serangga predator.
1.        Ordo Coleoptera
Coleoptera berasala dari bahasa Latin coleos = perisai, pteron = sayap, berarti insekta bersayap perisai.
Ciri-ciri ordo Coleoptera adalah :
·         Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan dan sayap belakang. Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang mengandung zat tanduk sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis seperti selaput.
·         Mengalami metamorfosis sempurna.
·         Tipe mulut menggigit.
·         Contoh : Kumbang kelapa (Oycies rhinoceros), Kutu gabah (Rhyzoperta dominica)
2.        Ordo Hymenoptera
Ciri-ciri ordo hymenoptera adalah :
·         Mengalami metamorfosis sempurna.
·         Tipe mulut menggigit dan ada yang kombinasi untuk menggigit dan menjilat.
·         Contoh : Lebah madu (Apis), tawon (Xylocopa latipes), semut hitam (Monomorium sp.).
3.        Ordo Diptera
Ciri-ciri ordo diptera adalah :
·         Memiliki satu pasang sayap depan dan sayap belakang mengalami redukasi membentuk halter (alat keseimbangan).
·         Mengalami metamorfosis sempurna.
·         Tipe mulut menusuk dan menghisap serta menjilat.
·         Dan memiliki tubuh ramping.
·         Contoh: Nyamuk rumah (Culex pipiens), nyamuk malaria (Anopheles sp.), nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), lalat buah (Drosophila melanogaster), lalat tsetse (Glossina palpalis).
4.        Ordo Odonata.
Ciri-ciri yang dimiliki oleh ordo homoptera adalah :
·         Memiliki dua pasang sayap tipis seperti selaput.
·         Mengalami metamorfosis tidak sempurna.
·         Tipe mulut menggigit.
·         Contoh : Capung (Aesha sp).
A.      Kumbang koksi
Kumbang koksi merupakan salah satu dari ordo Colepotera yang merupakan serangga predator. Kumbang koksi ini banyak disebut juga sebagai kumbang kepik karena memiliki bentuk tubuh yang hampir sama dengan kepik.
http://rumahserangga.files.wordpress.com/2011/08/800px-coccinella_magnifica01-http-en-wikipedia-org.jpg?w=300&h=201
Kumbang koksi atau kumbang kepik merupakan serangga predator yang dapat menguntungkan bagi para petani, karena umumnya serangga predator kumbang koksi ini menyerang serangga apidhs, kutu putih, tugau, kutu air kipas, dan kumbang tepung. Selain menjdai serangga predator, kumbang koksi ini juga dapat memakan daun tanaman sehingga bisa bersifat sebagai hama tanaman.
Serangga kumbang koksi ini sangat mudah dikenali karena memiliki bentuk yang bulat kecil dan pada bagian punggungnya memiliki warna yang berwara-warni dengan jenis bintik-bintik.
Klasifikasi kumbang koksi
·         Kingdom         : Animalia
·         Phylum            : Arthropoda
·         Class                : Insekta
·         Ordo                : Coleoptera
·         Subfamili         : Coccinellinae
·         Famili              : Coccinellidae
·         Gen                 : Coccinella
·         Species            : Coccinella septempunctata
B.       Semut merah atau Semut rangrang
Semut (Hymenoptera: Formicidae) memiliki jumlah jenis dan populasi yang berlimpah, terdiri dari 16 sub famili, 296 genus dan 15.000 spesies yang telah teridentifikasi. Keberadaan
http://i1215.photobucket.com/albums/cc512/syanur67/semut-rangrang-14.jpg
dari semut merupakan salah satu peranan yang penting dalam suatu ekosistem. Keberadaan semut mampu mengindikasikan kesehatan suatu ekosistem dan memberikan gambaran pada kehadiran organisme lain, karena banyaknya interaksi semut dengan berbagai tumbuhan maupun hewan lain.
Klasifikasi semut merah atau semut rangrang
·         Kingdom         : Animalia
·         Filum               : Arthropoda
·         Kelas               : Insecta
·         Ordo                : Hymenoptera
·         Famili              : Formicidae
·         Genus              : Oecophylla
·         Spesies            : Oecophylla smaragdina
Semut rangrang (Oecophylla) terdapat dua spesies semut rangrang yaitu O. smaragdina yang tersebar di India, Asia Tenggara sampai Australia dan O. longinoda yang tersebar di benua Afrika (Holldobler & Wilson, 1990 dalam Harlan, 2006). Oecophylla dicirikan dengan ukuran tubuh yang besar memanjang, berwarna cokelat kemerahan atau hijau, dan tidak memiliki sengat. Semut ini merupakan serangga sosial, hidup dalam suatu masyarakat yang disebut koloni.
Semut ini bersifat predator dan agresif, karena sifatnya ini Oecophylla sering digunakan sebagai agens pengendali hayati. Sebuah arsip dari Cina bagian selatan memperlihatkan bahwa sarang semut rangrang dipanen, dijual dan diletakkan di pohon jeruk untuk memberantas serangga hama sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu.
Selain itu semut rangrang dapat mengganggu, menghalangi atau memangsa berbagai jenis hama seperti kepik hijau, ulat pemakan daun, dan serangga pemakan buah. Populasi semut rangrang yang tinggi dapat mengurangi permasalahan hama tungau, pengorok daun dan penyakit greening/ citrus dieback yang ditularkan melalui kutu loncat pada tanaman jeruk. Kemampuan semut rangrang ini memberikan peluang besar menjadi musuh alami hama tanaman.
C.       Capung
Capung adalah kelompok serangga yang termasuk dalam ordo Odonata, banyak dijumpai di tempat-tempat terbuka yang tidak jauh dari lingkungan perairan dengan intensitas sinar matahari yang cukup, dan suhu yang hangat (250C – 330C). Di  dunia tercatat lebih
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT4vAPbBlyA-DeQcew6qJ9R3tq2JfUE8fabCYswvzd8ht-MjWSo9Q
5500 jenis capung yang sudah teridentifikasi, sedangkan di Indonesia diketahui lebih dari 700 jenis capung yang sudah teridentifikasi.
Klasifikasi capung
·         Kingdom         : Animalia
·         Sub kingdom   : Invertebrata
·         Filum               : Arthropoda
·         Kelas               : Insecta
·         Ordo                : Neuroptera
·         Familia            : Aeschnidae
·         Genus              : Anax
·         Spesies            : Anax imperator
Capung (Ordo:Odonata) merupakan salah satu musuh alami yang penting untuk dunia pertanian, selain sebagai bioindikator lingkungan bersih dan memiliki sifat polifaga. Nimfa capung menjadi predator bagi protozoa, larva nyamuk, ikan kecil, crustacea yang berukuran kecil ( Daphnia sp., Cyclops sp.) dan hewan-hewan yang kecil lainnya.
Sedangkan imago capung berperan sebagai predator bagi serangga, seperti nyamuk, lalat, kupu-kupu, wereng, dan capung dari spesies yang sama maupun berbeda. Dalam jaring-jaring makanan, capung juga menjadi mangsa bagi burung, laba-laba, dan katak.
D.      Lalat
Banyak orang yang tidak menyukai keberadaan lalat. Pada manusia lalat dapat mendatangkan penyakit, dengan cara menyebarkan virusnya pada makanan, minuman atau yang lainnya. Bagi  para petani lalat juga merupakan serangga yang dapat menguntungkan.
http://inforehat.com/wp-content/uploads/2014/01/lalat.jpg
Klasifikasi lalat
·         Kingdom         : Animalia
·         Filum               : Arthopoda
·         Kelas               : Insekta
·         Subkelas          : Pterygota
·         Ordo                : Diptera
·         Famili              : Asilidae
·         Genus              : Leptogaster
·         Spesies            : Leptogaster miegan
Lalat (Ordo: Diptera) merupakan salah satu serangga predator. Banyak jenis-jenis lalat yang bisa dikatakan sebagai serangga predator. Diantaranya lalat kaki panjang, lalat bunga, lalat jala, dan lalat buas. Pada lalat kaki panjang dikatakan sebagai serangga predator karena memakan serangga yang berukuran kecil. Lalat ini dapat ditemukan di kebun the. Larva lalat kaki panjang ini memakan kutu daun dan serangga kecil lain yang relatif kecil.
Lalat bunga merupakan serangga predator karena lalat ini memangsa kutu daun dan serangga kecil lainnya. Biasanya lalat ini dapat ditemukan di seluruh kebun, dan dibeberapa pepohonan saja. Lalat jala juga sama merupakan sebagai predator karena memakan kutu putih dan serangga kecil lainnya. Lalat jala ini dapat ditemukan disekitaran kebun the. Dibeberapa negara, lalat jala ini dikembangbiakan dan dilepas sebagai agen hayati untuk mengendalikan hama.
Lalat buas merupakan pemangsa hama yang efektif. Serangga ini merupakan predator yang dapt memakan serangga kecil bahkan serangga yang lebih besar darinya. Lalat ini menangkap serangga yang dapat terbang dan juga yang menghinggap pada tanaman atau yang berada dipermukaan tanah. Lalat buas ini merupakan serangga predator pada serangan hama penggerek buah kopi.
2.3. Serangga Parasitoid
Parasitoid merupakan serangga yang memparasitisasi jenis serangga atau arhtropoda lainnya. Serangga ini bersifat parasit pada fase sebelum dewasa dan hidup bebas ketika memasuki fase dewasa. Pada umumnya, parasitoid membunuh inang, namun dalam beberapa keadaan, inang bisa hidup dulu sebelum mengalami kematian.
Dalam hubungan parasit khusus, parasit dan inang hidup berdampingan tanpa kerusakan mematikan pada inang. Biasanya parasit mengambil sumberdaya makanan dari inang untuk tumbuh tanpa mencegah inang berkembang biak. Dalam hubungan parasitoid, inang dibunuh normalnya sebelum menghasilkan  keturunan.
Jenis-jenis parasitoid menurut hubungan dengan inang
a.         Idiobiont
Indiobiont adalah parasit yang mencegah pertumbuhan inang setelah mulai memparasit atau oviposisi bahkan membunuh inangnya.  Pada umumnya berkembang pada tahapan hidup inang yang inaktif  (mis, telur atau pupa). Trichogramma sp adalah contoh serangga yang termasuk parasitoid jenis ini.
b.        Koinobiont
Koinobiont merupakan parasitoid yang memungkinkan inang terus berkembang.  Parasitoid jenis ini tidak membuat inang terbunuh, hanya mengambil bahan makanan dari inang hingga menjadi kepompong ataupun dewasa  dan pada umumnya parasitoid jenis ini hidup dalam fase inang aktif.
Koinobiont dapat dibagi lagi menjadi endoparasitoid, yang tumbuh dalam tubuh inangnya, dan ektoparasitoid, yang tumbuh di luar badan inang, meskipun sering terikat atau melekat dengan jaringan inang. Contoh parasitoid jenis ini misalnya Diadegma eucerophaga parsitoid larva Plutella xylostella dan lalat jatiroto yang merupakan parasitoid larva penggerek batang tebu.
c.         Multiparasitisme
Multiparasitisme adalah parasitisme terhadap inang yang sama oleh lebih dari satu jenis parasitoid primer.
d.        Superparasitisme
Superparatisme adalah parasitisme satu inang oleh banyak parasitoid dari jenis yang sama. 
e.         Hiperparasitoid atau parasitoid sekunder
Dimana inang dan parasitoid primer dibunuh, jenis ini sebagian besar diketahui termasuk ordo Hymenoptera.
Beberapa ordo serangga yang berpotensi sebagai parasitoid :
1.        Ordo Coleoptera
Coleoptera berasala dari bahasa Latin coleos = perisai, pteron = sayap, berarti insekta bersayap perisai.
Ciri-ciri ordo Coleoptera adalah :
·         Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan dan sayap belakang. Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang mengandung zat tanduk sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis seperti selaput.
·         Mengalami metamorfosis sempurna.
·         Tipe mulut menggigit.
·         Contoh : Kumbang kelapa (Oycies rhinoceros), Kutu gabah (Rhyzoperta dominica)
2.        Ordo Hymenoptera
Ciri-ciri ordo hymenoptera adalah :
·         Mengalami metamorfosis sempurna.
·         Tipe mulut menggigit dan ada yang kombinasi untuk menggigit dan menjilat.
·         Contoh : Lebah madu (Apis), tawon (Xylocopa latipes), semut hitam (Monomorium sp.).
3.        Ordo Diptera
Ciri-ciri ordo diptera adalah :
·         Memiliki satu pasang sayap depan dan sayap belakang mengalami redukasi membentuk halter (alat keseimbangan).
·         Mengalami metamorfosis sempurna.
·         Tipe mulut menusuk dan menghisap serta menjilat.
·         Dan memiliki tubuh ramping.
·         Contoh: Nyamuk rumah (Culex pipiens), nyamuk malaria (Anopheles sp.), nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), lalat buah (Drosophila melanogaster), lalat tsetse (Glossina palpalis).
4.        Ordo Lepidoptera
Ciri-ciri ordo Lepidoptera adalah :
·         Memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus.
·         Mengalami metamorfosis sempurna.
·         Tipe mulut pada tahap larva menggigit, sedangkan pada tahap dewasa menghisap.
·         Mata fasetnya besar.
·         Contoh: Kupu-kupu Swallowtail, kupu-kupu sutera (Bombyx mori), kupu-kupu elang  (Acherontia atropos).
2.4. Serangga Patogen
Patogen serangga adalah mikroorganisme (cendawan, bakteri, virus, protozoa, nematode dan mikroba lainnya) yang dapat menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada serangga hama. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menibulkan penyakit pada serangga disebut “mikroorganisme entomopatogen”.
Karakteristik Patogen :
·         Menyebabkan pertumbuhan terhambat, menghambat reproduksi, membunuh inang
·         Memiliki target inang spesifik atau stadium spesifik
·         Efektifitas sangat tergantung pada kondisi lingkungan
·         Dapat menyebabkan epizootic (ledakan [enyakit di dalam populasi serangga)
·         Tingkat pengendalian tidak dapat diprediksi, relative lambat (memerlukan waktu untuk dapat mengendalikan)
Jenis dan Ciri-ciri serangga pathogen:
1.        Cendawan
Cendawan yang berfungsi sebagai cendawan pathogen seranggan pada umumnya dari kelas Deuteromycetes, ordo Moniliales, famili Moniliaceae, seperti Beauveria bassinana, Metarhizium sp., Hirsutella citriformi, Nomuraea rileyi.
Cendawan mematikan hama dengan cara mengifeksi tubuh inang. Perkembangan infeksi sangat dipengarhi kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban yang tinggi). Suhu optimum untuk pertumbuhan cendawan pathogen 23-25 °C.
a.       Beauveria bassiana
Beauveria bassiana termasuk dalam golongan pathogen serangga ordo Monililes, famili Moniliaceae. Cirri-cirinya antara lain:
·         Cendawan berwarna putih, penyebaran spora melalui air atau terbawa angina
·         Menginfeksi serangga melalui integument/jaringan lunak. Selanjutnya hifa tumbuh dari konidia dan merusak jaringan
·         Cendawan tumbuh keluar dari tubuh inang pada saat cendawan siap menghasilkan spora untuk disebarkan
·         Apabilakeadaan tidak mendukung, perkembangan cendawan hanya berlangsng didalam tubuh serangga tanpa keluar menembus integument.
·         Tubuh serangga mati yang terinfeksi B bassiana mengeras seperti mumi
·         Serangga inang dari cendawan ini adalah berbagai jenis wereng,penggerek batang padi, hama putih palsu, walang sangit, kepinding tanah, ulat rayak, Aphis, Ulat daun dll.
b.      Metarhizium sp
Metarhizium sp termasuk golongan pathogen serangga ordo Moniles, famili Moniliaceae. Ciri-cirinya antara lain:
·         Cendawan berwarna putih, penyebaran spora melalui air atau terbawa angin
·         Spora menginfeksi tubuh serangga melalui integument/jaringan lunak. Selanjutnya hifa tumbuh dari konidia dan merusak jaringan
·         Cendawan berkembang membentuk hifa putih yang keluar dari tubuh inang pada saat cendawan siap menghasilkan spora untuk disebarkan
·         Pada saat spora terbentuk, cendawan pathogen berubah warna menjadi hijau gelap (M. anisopliae), atau hijauderah (M. flvoride)
·         Serangga inang dari cendawan ini adalah berbagai jenis wereng, kepik, dan kumbang.
2.        Bakteri
Bakteri Patogen serangga yang banyak dimanfaatkan dan diproduksi secara komersial sebagai insektisida mikroba adalah Bacillus thuringiensis. Bakteri ini termasuk dalam famili Bacillaceae, menghasilkan metabolic sekunder berlangsung ketika masa pertumbuhan vegetatif atau sporulasi. Ciri-cirinya antara lain:
·         Serangga yang terinfeksi B. thurigensis menunjukkan gejala penurunan aktifitas makan dan cenderung mencari perlindungan (dibawah daun/tempat tersembunyi).
·         Larva mengalami diare, mengeluarkan cairan dari mulutnya, mengalami lumpuh dan akhirnya mati
·         Serangga inang dari bakteri ini adalah Plutella xylostela, Crocidolomia
binotalis, Helicoverpa armigera, Spodoptera exigua, Hama kelapa sawit dan kedelai.
3.        Virus (NPV = Nuclear Pholyhedrosis Virus)
NPV (Nuclear Pholyhedrosis Virus) merupakan virus serangga tergolong dalam famili Baculoviridae (baculovirus). Ciri-cirinya antara lain:
·         Ciri yang khas yaitu berupa bahan inklusi (inclusion bodies) berbentukpolyhedral yang merupakan kristal protein pembungkus virion, dengan diameter 0,2-20µm, sedang vironnya berbentuk batang berukuran40-70x200-400 µm.
·         Larva yang terinfeksi menunjukkan gejala serangan 1-2 hari setelah polyhedral termakan.
·         NPV menyerang larva asing inang yang spesifik.
·         Serangga inang NPV adalahSl-NPV (untuk Spodoptera litura), Se-NPV (untuk S. exigua pada tanaman bawang merah) dan Ha-NPV (Helicoverpa armigera pada tanaman tomat dan jagung).
4.        Nematoda
Nematoda pathogen serangga (NPS) yang beerpotensi untuk dimanfaatkan sebagai agen pengendali hama adalah Steinernema dan Heterorhabditis. Ciri-cirinya antara lain:
·         Serangga bersifat aktif mencari mangsa dan mampu mencapai serangga yang teletak dalam habitat tersembunyi dalaml liang gerek dan di dalam tanah.
·         Masuk dalam tubuh serangga inang melalui lubang-lubang alami atau melalui membrane antar skeleton
·         Stadia infektif adalah instar ke tiga yang disebut Juvenil Infektif (JI)
·         Setelah 1-2 minggu, Juvenil Infektif baru yang terbentuk meninggalkan tubuh serangga mati dan mencari inang baru.
·         Serangga inang dari kedua genus nematode tersebut bersifat patogenik terhadap 25 % species serangga dari 10 ordo dan bahkan tifdak kurang dari 200 species serangga dari 6 ordo sangat rentan terhadap infeksi NPS.
Serangga ada yang bersifat sebagai predator yaitu merupakan serangga musih alami yang bisa memakan sesama jenis serangga. Keberadaan serangga ini bisa menekan perkembangan serangan hama yang bisa merugikan para petani. Namun, keberadaan serangga predator ini tidaklah banyak karena tingkat laku manusia sendiri.
Selain serangga predator, adapula serangga parasitoid. Serangga parasitoid ini merupakan jenis serangga yang tumbuh diatas atau tumbuh didalam tubuh binatang inang yang lebih besar yang merupakan inangnya. Serangga pathogen merupakan jenis mikrooragnisme yang dapat menyebabkan infeksi dan penyakit pada serangga hama.
Kompetisi antar serangga terjadi karena adanya keinginan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari akibat kepadatan populasi yang sedemikian rupa naikknya, sehingga kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya dari populasi tersebut menjadi diluar kemampuan alam dilingkungan untuk menyediakannya.
Karena pada akhirnya kompetisi ini dapat mendorong terjadinya perpindahan atau kematian sekelompok serangga, dalam kaitannya dapat dibedakan menjadi dua tipe kompetisi, yaitu:
·         Kompetisi intraspesifik
Kompetisi intraspesifik ini adalah persaingan yang terjadi antar individu-individu dalam satu spesies populasi.
·         Kompetisi interspesifik
Kompetisi interspesifik ini adalah kompetisi yang terjadi pada dua spesies atau dua populasi yang lebih banyak.

2.5. Kisaran Tumbuhan Inang
Dalam kenyataannya serangga ada yang tergolong dalam serangga predator, serangga parasitoid, dan serangga pathogen tetap harus mempertahankan kehidupannya. Para serangga membutuhkan makanan sebagai penunjang kehidupannya. Makanan merupakan faktor dalam yang dibutuhkan oleh para serangga.
Cara hidup serangga fitofag beragam. Ada yang hidup di permukaan tanaman, ada juga yang tinggal dalam jaringan tanaman dengan cara mengorok, menggerek atau membentuk puru. Selain itu, ada juga yang hidup di dalam tanah disekitar permukaan. Serangga fitofag adalah serangga atau hewan serangga atau hewan yang menjadi hama yang memakan tanaman. Berdasarkan kisaran tumbuhan inang, serangga fitofag dibedakan menjadi 3 bagian, dianatarnya:
a.         Monofag
Monofag adalah kelompok serangga yang mempunyai tanaman inang hanya pada satu atau beberapa spesies dari family tertentu. Contoh serangga monofag ini adalah hama penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas). Serangga yang termsuk kedalam monofag ini lebih mudah dikendalikan dengan cara tidak menanami lahan dengan tanaman yang menjadi makanan.
b.        Oligofag
Oligifag adalah serangga yang berkembang yang hidup dan makan pada sejumlah beberapa spesies tumbuhan dari satu family. Contohnya adalah, hama ulat daun kubis  (Plutella xylostella) yang memakan tumbuhan dari family Cruciferae.
c.         Polifag
Polifag adalah serangga yang banyak memakan jenis tumbuhan dari berbagai family. Contoh serangga yang tergolong kedalam polifag adalah, ulat grayak utama (Spodoptera litura) dan  hama penggerek tongkol (Helicoverpa armigera).
BAB III
METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Oktober 2014 pukul 07:00 WIB sampai dengan selesai yang bertempat di Laboratorium Bioteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat tulis berupa pensil, pulpen, penghapus dan kertas HVS. Bahan yang digunakan pada saat praktikum jenis serangga predator dari ordo coleopteran, hymenoptera, odonata, diptera.
3.3. Cara Kerja
1.      Siapkan alat tulis.
2.      Amati setiap moroflogi serangga non hama (predator).
3.      Gambar setiap bagian-bagian tubuh serangga dan beri keterangan.
4.      Beri keterangan pada setiap serangga yang diserang atau menyerang, dan sifat-sifatnya.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
No.
Gambar
Serangga yang Dimakan
1

http://rumahserangga.files.wordpress.com/2011/08/800px-coccinella_magnifica01-http-en-wikipedia-org.jpg?w=300&h=201
Kumbang Koksi
Serangga predator dari Ordo Colepotera ini seperti tungau, apidhs, kutu putih, kutu air kipas, dan kumabng tepung. Selain serangga yang berukuran kecil serangga predator ini juga memiliki musuh alami yaitu, kelelawar, burung, tikus, dan rakun.
2
http://i1215.photobucket.com/albums/cc512/syanur67/semut-rangrang-14.jpg
Semut Merah atau Semut Rangrang
Serangga predator yang mekan kepik hijau, ulat pemakan daun, dan serangga pemakan buah, hama tungau, pengorok daun dan penyakit greening/ citrus dieback yang ditularkan melalui kutu loncat pada tanaman jeruk
3
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT4vAPbBlyA-DeQcew6qJ9R3tq2JfUE8fabCYswvzd8ht-MjWSo9Q
Capung
Nimfa capung menjadi predator bagi protozoa, larva nyamuk, ikan kecil, crustacea yang berukuran kecil (Daphnia sp., Cyclops sp.) dan hewan-hewan yang kecil lainnya. Sedangkan imago capung berperan sebagai predator bagi serangga, seperti nyamuk, lalat, kupu-kupu, wereng, dan capung dari spesies yang sama maupun berbeda.
4
http://inforehat.com/wp-content/uploads/2014/01/lalat.jpg
Lalat
Memakan berbagai serangga hama yang berukuran lebih kecil, kutu putih, dan kutu daun
4.2. Pembahasan
Dari praktikum yang sudah dilakukan, praktikan jadi mengetahui serangga predator. Serangga predator pada umumnya terdapat pada Ordo diptera (lalat), Ordo Coleoptera (kumbang koksi), Ordo hymenoptera (semut merah atau semut rangrang), dan Ordo odonata (capung).
Serangga diakatakn sebagai serangga predator karena memangsa sesama serangga, baik serangga yang berukuran kecil maupun besar. Lalat (Ordo: diptera) merupakan serangga predator yang banyak membantu para petani dalam mengurangi serangan dari serangga hama. Lalat ini pada saat imago (dewasa) merupakan bagian dari pengendalian hayati. Lalat yang menjadi predator dapat memakan jenis serangga seperti kutu daun, dan hama yang menyerang perkebunan kopi.
Serangga yang termasuk kedalam Ordo Diptera ini memiliki cirri satu pasang sayap didepan, mengalami metamorphosis secara sempurna, memiliki tubuh yang kecil, ramping. Memiliki tipe mulut yang bervariasi, ada yang menjilat, menghisap bahkan menusuk.
Kumbang koksi (Ordo Colepotera) atau banyak orang menyebutnya kumbang kepik merupakan serangga predator yang dapat menguntungkan bagi para petani, karena umumnya serangga predator kumbang koksi ini menyerang serangga apidhs, kutu putih, tugau, kutu air kipas, dan kumbang tepung. Selain menjadi serangga predator, kumbang koksi ini juga dapat memakan daun tanaman sehingga bisa bersifat sebagai hama tanaman.
Serangga dengan Ordo Coleoptera ini memiliki cirri-ciri, dua pasang sayap, yaitu sayap depan dan sayap belakang. Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang mengandung zat tanduk sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis seperti selaput. Mengalami metamorfosis sempurna. Tipe mulut menggigit.
Semut merah atau semut rangrang (Ordo: Hymenoptera) merupakan serangga predator karena semut rangrang dapat mengganggu, menghalangi atau memangsa berbagai jenis hama seperti kepik hijau, ulat pemakan daun, dan serangga pemakan buah.
Populasi semut rangrang yang tinggi dapat mengurangi permasalahan hama tungau, pengorok daun dan penyakit greening/citrus dieback yang ditularkan melalui kutu loncat pada tanaman jeruk. Kemampuan semut rangrang ini memberikan peluang besar menjadi musuh alami hama tanaman.
Serangga predator dengan Ordo Hymenoptera memiliki cirri-ciri mengalami metamorphosis secara sempuran. Tipe mulut yang dimiliki adalah tipe menggigit, selain itu ada juga yang dikombinasikan dengan tipe mulut menggigit dan menjilat.
Capung (Ordo: Odonata) serangga predator yang banyak dijumpai di tempat-tempat terbuka yang tidak jauh dari lingkungan perairan dengan intensitas sinar matahari yang cukup, dan suhu yang hangat (250C – 330C).
Capung merupakan salah satu musuh alami yang penting untuk dunia pertanian, selain sebagai bioindikator lingkungan bersih dan memiliki sifat polifaga. Nimfa capung menjadi predator bagi protozoa, larva nyamuk, ikan kecil, crustacea yang berukuran kecil ( Daphnia sp., Cyclops sp.) dan hewan-hewan yang kecil lainnya.
Sedangkan imago capung berperan sebagai predator bagi serangga, seperti nyamuk, lalat, kupu-kupu, wereng, dan capung dari spesies yang sama maupun berbeda. Dalam jaring-jaring makanan, capung juga menjadi mangsa bagi burung, laba-laba, dan katak.
Cirri-ciri serangga yang termasuk kedalam Ordo Odonata ini Memiliki dua pasang sayap tipis seperti selaput. Mengalami metamorfosis tidak sempurna. Tipe mulut menggigit.
















BAB V
PENUTUP

5.1. Simpulan
Dari praktikum yang sudah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa serangga bukan hanya menggangu atau merusak tanaman. Adapula beberapa serangga yang dapat membantu para petani menekan pertumbuhan serangan serangga hama. Serangga predator merupakan jenis serangga yang menjadi musuh alami. Serangga ini memakan sesama jenis serangga. Biasanya bentuk fisik serangga predator ini lebih besar dari serangga hama yang dimangsa.
Bukan hanya serangga predator, ada pula serangga parasitoid yang merupakan jenis serangga yang memparasitasi jenis serangga lainnya. Serangga ini menyerang pada inang lalu inang secara perlahan akan mengalami kematian. Serangga pathogen mikroorganisme (cendawan, bakteri, virus, protozoa, nematode dan mikroba lainnya) yang dapat menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada serangga hama.
Pada serangga terjadi yang namanya kompetisi. Kompetisi merupakan cara bertahan hidup yang diguanakan untuk bersaing mendapatkan makanan, tempat hidup, dan lain-lain.
5.2. Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya semoga tidak terjadi kendala pada saat praktikum. Semoga praktikum selanjutnya bisa dilaksankan dengan lebih efektif, dan efisiesn.



DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 1991.  KUNCI DETERMINASI SERANGGA, Program Nasional Pelatihan dan Pengembangan Pengendalian Hama Terpadu. Yogyakarta : KANISIUS.
Bernadeta Putri Irma Dalia , Amin Setyo Leksono. 2014. INTERAKSI ANTARA CAPUNG DENGAN ARTHROPODA DAN VERTEBRATA PREDATOR DI KEPANJEN, KABUPATEN MALANG. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya Malang. Jurnal Biotropika | Vol. 2 No. 1
Harlan, I. 2006. Aktivitas Pencarian Makan Dan Pemindahan Larva Semut Rangrang Oecophylla smaragdina (Formicidae: Hymenoptera). IPB. Bogor.
Purnomo, Hari. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati. Yogyakarta :  CV Andi OFFSET.
Pracaya, Ir. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman. Depok : Penebar Swadaya.
Surahman, Enceng. 2007. Hama Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan. Yogyakarta : KANISIUS.
Administrator. http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsurabaya/berita-405-apa-sih-parasitoid-itu-.html (diakeses pada hari Sabtu tanggal 1 November 2014 pukul 21:21 WIB).
Fitriced. 2010. http://fitriced.wordpress.com/2010/06/20/laporan-praktikum-ihtd-kisaran-inang/ (diakses pada hari Sabtu tangga 1 November 2014 pukul 22:35 WIB).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar